Scroll untuk baca artikel
AcehACEH TENGAHBerita

60 Hari Pasca Banjir Bandang dan Longsor, Jalan Provinsi Lintas Bintang–Simpang Simpil Tak Kunjung Diperbaiki

25
×

60 Hari Pasca Banjir Bandang dan Longsor, Jalan Provinsi Lintas Bintang–Simpang Simpil Tak Kunjung Diperbaiki

Sebarkan artikel ini

Aceh Tengah, Satupena.co.id – Enam puluh hari pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Provinsi Aceh, akses Jalan Provinsi lintas Bintang–Simpang Simpil, tepatnya dari Simpang Kraf hingga Simpang Simpil, Kabupaten Aceh Tengah, hingga kini belum tersentuh penanganan sama sekali.

Pantauan di lapangan menunjukkan, badan jalan masih tertutup material longsor berupa tanah, bebatuan, serta batang pohon dan anjolok nya badan jalan, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh total. Warga kesulitan melintas, bahkan tidak sedikit kendaraan roda dua maupun roda empat terpaksa berhenti dan berbalik arah karena akses tidak dapat dilalui.

Jalan tersebut diketahui merupakan jalur vital yang menghubungkan Kecamatan Bintang menuju Simpang Simpil, sekaligus akses alternatif kedua menuju Kabupaten Gayo Lues setelah jalur Burlintang. Namun ironisnya, hingga dua bulan berlalu sejak bencana terjadi, belum terlihat langkah konkret dari Pemerintah Aceh, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh.

Baca juga Artikel ini :  Akses Dua Dusun Kini Terbuka, Pembangunan Jembatan TMMD Capai 40 Persen

Salah seorang warga setempat, Asnawi, menyampaikan kekecewaan dan keluhannya terhadap lambannya penanganan pemerintah.

“Kami mohon dengan sangat kepada Bapak Gubernur Aceh agar memerintahkan Dinas PUPR Aceh segera turun tangan dan menerobos jalan ini. Sudah 60 hari, tapi belum ada alat berat, belum ada perbaikan. Banyak warga terjebak dan tidak bisa melintas,” ujar Asnawi.

Baca juga Artikel ini :  Babinsa hadiri pembentukan Koperasi Desa Merah Putih Syariah di Desa Pantan Penyo, Kecamatan Ketol

Menurutnya, belum dibukanya akses jalan provinsi tersebut berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat, mulai dari terhambatnya aktivitas ekonomi, distribusi bahan kebutuhan pokok, hingga akses masyarakat ke layanan kesehatan yang menjadi sangat terbatas.

“Dengan kondisi seperti ini, masyarakat benar-benar kesulitan. Ini bukan jalan kecil, ini jalan provinsi dan jalur utama kami,” tegasnya.

Baca juga Artikel ini :  Rutan Bener Meriah Ikuti Tasyakuran Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-61 Secara Virtual

Asnawi juga mengungkapkan bahwa dirinya bersama warga lainnya telah berulang kali mencoba menghubungi pihak Dinas PUPR Aceh, namun hingga saat ini tidak ada respons maupun tindak lanjut nyata di lapangan.

Masyarakat berharap Pemerintah Provinsi Aceh tidak terus berdiam diri dan segera mengambil langkah konkret dengan menurunkan alat berat untuk membersihkan material longsor serta membuka kembali akses jalan tersebut.

Mengingat jalur ini merupakan urat nadi penghubung antarwilayah, keterlambatan penanganan dinilai semakin memperparah penderitaan warga pascabencana.

Penulis : Onot Pejebe.