Poto: Dengan bermodalkan tongkat kayu seorang warga berusaha menyebrangi sungai weh gegaring.
Bener Meriah, Satupena.co.id— Derasnya hujan yang mengguyur Kampung Pantan Sinaku, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Selasa (6/1/2025), kembali membuat Sungai Weh Gegaring meluap. Arus air berwarna kecokelatan mengalir deras, membawa kayu, lumpur, dan bebatuan, hingga menutupi jembatan darurat yang menjadi satu-satunya akses warga.
Di lokasi, warga tampak berdiri di tepi sungai dengan raut cemas. Beberapa pengendara sepeda motor memilih berhenti dan menunggu, sementara yang lain mencoba mencari jalur alternatif yang lebih aman. Jembatan darurat dari susunan kayu, sisa material banjir, dan batu-batu besar itu tak lagi terlihat, tenggelam oleh derasnya debit air.
Kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan lebat turun, Sungai Weh Gegaring hampir selalu meluap. Situasi tersebut sangat membahayakan, terutama pada malam hari ketika jarak pandang terbatas dan arus sungai semakin sulit diperkirakan.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kampung Pantan Sinaku menjadi salah satu wilayah terdampak parah banjir bandang dan longsor pada 26 November lalu. Bencana tersebut menghancurkan sejumlah jembatan vital, di antaranya Jembatan Weh Gegaring yang merupakan akses utama menuju ibu kota Kecamatan Pintu Rime Gayo.
Selain itu, Jembatan Weh Genengan arah Simpang Hantu dan Jembatan Weh Genengan arah Dusun Bandung juga rusak berat.
Tak hanya jembatan, beberapa ruas jalan tertimbun longsor hingga kini belum bisa dibersihkan secara permanen. Tebalnya material tanah dan bebatuan membuat pembersihan manual hampir mustahil, sehingga jalur tersebut hanya dapat dilalui kendaraan roda dua dengan risiko tinggi.
Salah satu aparatur Kampung Pantan Sinaku yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebutkan, sejak bencana terjadi, belum ada bantuan alat berat maupun upaya perbaikan jembatan dari pemerintah.
“Sampai saat ini belum ada bantuan pemerintah, baik alat berat maupun pembangunan kembali jembatan yang hancur. Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan warga,” ujarnya kepada media.
Ia berharap pemerintah segera turun tangan dengan mengirimkan alat berat untuk membersihkan material longsor serta membangun kembali jembatan-jembatan yang rusak agar aktivitas masyarakat kembali normal.
“Kami sangat berharap perhatian dari pihak terkait. Petani di sini akan segera menghadapi panen kopi. Jika akses belum diperbaiki, kami akan sangat kesulitan mengeluarkan hasil panen,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga Pantan Sinaku masih bergantung pada cuaca dan menunggu air sungai surut, sembari berharap adanya langkah nyata agar bencana serupa tak terus berulang dan mengancam keselamatan mereka.
© Juansyah









