AcehACEH UTARABerita

Kebun dan Sawah Warga Jadi Muara Dugaan Limbah MBG, Warga Mampre Paya Bakong Mulai Resah

×

Kebun dan Sawah Warga Jadi Muara Dugaan Limbah MBG, Warga Mampre Paya Bakong Mulai Resah

Sebarkan artikel ini

Aceh Utara – Bagi sebagian warga Gampong Mampre, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, kebun bukan sekadar sebidang tanah. Di sana ada tanaman, ada sumber penghidupan, dan ada ruang yang selama ini mereka rawat.

Namun kini, kebun itu diduga harus menerima aliran limbah dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pantauan media ini, Rabu, (40/9/2026), menunjukkan dugaan aliran limbah yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah Yayasan Trieng Mandiri mengarah ke drainase umum. Aliran tersebut diduga kemudian menuju area persawahan dan kebun milik warga.

Yang menjadi sorotan bukan hanya drainasenya. Justru kebun warga menjadi titik yang paling dikhawatirkan.

Limbah diduga masuk ke salah satu kebun milik warga dan mengalir hingga ke bagian belakang ruko warga.

Jejak aliran tersebut menimbulkan keresahan karena lahan yang semestinya menjadi ruang produksi dan tempat warga merawat tanaman justru diduga menjadi tempat bermuaranya air buangan.

Di lokasi, salah satu saluran juga diduga dibuat lubang sehingga air dapat mengalir keluar menuju saluran lainnya. Dari sana, aliran diduga bergerak menuju kawasan kebun warga.

Baca juga Artikel ini :  Wakil Bupati Aceh Tamiang Buka Kegiatan Musrenbang Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2026

Bagi pemilik kebun, persoalannya bukan semata air yang menggenang atau mengalir melewati tanah.

Ada kekhawatiran lebih jauh: apa yang sebenarnya ikut terbawa bersama aliran itu?

Apakah hanya air bekas cucian dapur? Apakah terdapat sisa makanan, minyak, bahan organik, atau zat lain? Dan yang paling penting, apakah aliran tersebut telah memenuhi standar pengelolaan limbah sebelum dilepas ke lingkungan?.

Pertanyaan-pertanyaan itu membutuhkan pemeriksaan teknis, bukan sekadar dugaan.

Keresahan pemilik kebun bahkan telah dibawa ke media sosial. Melalui akun TikTok, warga mengunggah video dengan narasi “Untung Orang Lain, Rugi di Kita.”

Pada unggahan lainnya, warga juga menuliskan keluhan bahwa limbah SPPG membuat masyarakat resah.

Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak lagi berhenti di batas pagar dapur SPPG. Ia telah bersentuhan dengan ruang hidup warga.

Jika benar limbah dari fasilitas pengolahan makanan mengalir ke lahan masyarakat, maka persoalannya menjadi lebih serius. Sebab, kebun warga bukan saluran pembuangan.

Baca juga Artikel ini :  50 Ribu Mushaf Al-Qur’an Bantuan Arab Saudi Disalurkan ke 17 Kabupaten/Kota Terdampak Bencana

Kebun adalah ruang hidup.

Di sanalah tanaman tumbuh, tanah dirawat, dan sebagian warga menggantungkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari. Karena itu, dugaan masuknya limbah ke lahan tersebut patut mendapat pemeriksaan dari instansi yang memiliki kewenangan.

Apalagi program MBG dibangun dengan tujuan menghadirkan makanan bergizi bagi masyarakat. Semestinya manfaat program tidak berhenti di meja makan, sementara dampak lingkungannya justru dirasakan warga di sekitar dapur.

SLHS dan Pertanyaan tentang Pengawasan

Kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai penerapan standar sanitasi dan pengelolaan limbah pada SPPG.

Jika fasilitas tersebut telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), bagaimana mekanisme pengawasan terhadap pembuangan limbahnya? Apakah saluran pembuangan telah sesuai standar? Dan apakah pernah dilakukan pemeriksaan terhadap aliran limbah yang diduga masuk ke kebun warga?.

Pertanyaan itu penting dijawab dengan data dan pemeriksaan lapangan.

Media ini telah menghubungi Bukhari, Kepala SPPG tersebut, untuk meminta konfirmasi mengenai dugaan aliran limbah ke drainase dan kebun warga.

Namun hingga berita ini ditulis, pesan yang dikirim melalui WhatsApp belum mendapat respons dan masih menunjukkan tanda centang satu.

Baca juga Artikel ini :  Program revitalisasi sekolah di Kabupaten Toba, Sumatra Utara, mendapat sorotan dari aktivis dan pemerhati pendidikan.

Sementara itu, Risda Felina, Kepala Perwakilan Regional Badan Gizi Nasional (BGN), saat dikonfirmasi pada 1 Oktober 2026, mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan.

“ Akan mengecek kembali di lapangan,” ujarnya singkat.

Pengecekan tersebut penting untuk menjawab keresahan warga sekaligus memastikan apakah pengelolaan limbah SPPG telah berjalan sesuai ketentuan.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan MBG bukan hanya diukur dari makanan yang sampai ke penerima manfaat. Program yang bergizi semestinya tidak meninggalkan limbah yang membuat warga kehilangan rasa aman atas kebun dan lingkungan tempat mereka hidup.

Hingga ada hasil pemeriksaan resmi, dugaan pencemaran maupun dugaan pelanggaran sanitasi dalam pemberitaan ini belum dapat dinyatakan sebagai fakta hukum.

Pihak pengelola SPPG dan Yayasan Trieng Mandiri tetap memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.

Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait, sesuai dengan prinsip keberimbangan, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), serta ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Berita

  Taput//Satupena co.id. Bupati Tapanuli Utara menghadiri penutupan Olimpiade Sains Kelas Unggulan (OSKU) Jenjang SMP Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2026 di SMP Swasta Santa Maria Tarutung, Sabtu (19/9/2026).   Mengusung tema “Olimpiade Sains Menginspirasi, Tapanuli Utara Berprestasi”, OSKU diikuti peserta dari 53 sekolah penyelenggara kelas unggulan di 15 kecamatan, dengan bidang kompetisi Matematika, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS.   Kegiatan ini menjadi wadah untuk mengembangkan potensi akademik, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sekaligus menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat dan sportif.   Pada penutupan, diumumkan para pemenang serta dilaksanakan penyerahan hadiah, medali, piagam penghargaan dan uang pembinaan.   Bupati Tapanuli Utara secara resmi menutup pelaksanaan OSKU Tahun 2026 dengan harapan kegiatan ini semakin mendorong semangat belajar dan lahirnya generasi muda Tapanuli Utara…

Berita

  Pemerintah Kabupaten Taput Melalui Tim Reaksi bergerak Cepat Meninjau Lokasi Bencana Angin Puting Beliung di Desa Siabal Abal V Kecamatan Sipahutar.  September 28, 2026 Taput//Satupena co.id. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melalui Tim Reaksi Cepat bergerak cepat meninjau lokasi bencana angin puting beliung yang melanda Dusun Sitapongan Toruan, Desa Siabal Abal V, Kecamatan Sipahutar, Minggu (27/9/2026).   Dalam kunjungan tersebut, Pemkab Tapanuli Utara menyerahkan bantuan berupa sembako dan family kit kepada 9 kepala keluarga (KK) yang terdampak bencana.   Peninjauan dan penyerahan bantuan dipimpin oleh Kepala Dinas Sosial dan PPA, bersama Kepala Dinas Perkim dan Lindup, perwakilan BPBD, anggota Tagana, serta Pekerja Sosial Masyarakat (PSM). Turut hadir Anggota DPRD Tapanuli Utara, Ronal Simanjuntak….

Hayo mau copy paste ya